- Back to Home »
- Karir »
- Apakah Bos Wanita Lebih Baik?
Posted by : Unknown
Minggu, 23 Juni 2013
Kerap dianggap terlalu emosional, dan terkadang bitchy. Namun, survei terbaru menunjukkan bahwa atasan wanita lebih disukai.
Pasti
yang ada di kepala Anda setiap mendengar kata “bos wanita” adalah
seorang sosok yang dingin, galak, emosional, single, dan kesepian. Well,
mungkin itu dulu – wanita modern tak perlu menjadi sosok menyebalkan
untuk bisa memimpin perusahaan dengan baik. Survei membuktikan demikian.
Ya,
kabar baik, ladies. Sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of
Business Research baru-baru ini membuktikan bahwa bos wanita lebih baik
dalam memimpin daripada bos pria, sebab sebagian besar responden yang
disurvei mengakui bahwa atasan wanita cenderung memimpin dengan cara
yang lebih demokratis dan mengizinkan para karyawannya untuk
berpartisipasi dalam membuat keputusan, sehingga menciptakan hubungan
komunikasi yang lebih baik. Selain itu, studi yang sama juga mengungkap
bahwa atasan wanita jauh lebih menghargai work-life balance. Sebaliknya,
atasan pria akan lebih cepat meledak bila menemukan anak buah mereka
sedang asyik membuka Facebook, Twitter, berbelanja online, atau sibuk
dengan panggilan pribadi.
Lain lagi dengan penelitian serupa yang
dilakukan oleh perusahaan telekomunikasi asal Inggris, Vodafone,
terhadap attitude dari 1000 pemimpin perusahaan. Sebagian besar atasan
wanita sepakat bahwa batasan-batasan antara kehidupan pribadi dan
pekerjaan semakin pudar semenjak para pekerja aktif menggunakan smart
phone di kantor. Dan para atasan wanita ini pun bisa memahaminya, selama
tanggung jawab para staf terhadap pekerjaan mereka tetap dijalani
sebagaimana mestinya. Berbeda dengan bos-bos pria yang lebih disiplin.
Masih
dari penelitian yang sama tahun lalu, delapan dari sepuluh orang atasan
wanita menganggap anak buah mereka sebagai teman. Mereka beranggapan
bahwa batasan formal antara atasan dengan bawahan tidak perlu dianggap
terlalu kaku. Hasilnya, staf pun akan merasa jauh lebih bisa terbuka
dalam menyampaikan pendapat dan ide-idenya kepada atasan yang bisa
berdampak positif pada kemajuan karier mereka.
Dari semua uraian
di atas bisa disimpulkan bahwa komunikasi adalah kelebihan utama yang
dimiliki para atasan wanita. Profesor Nitin Nohria dari Harvard Business
School pernah berkata, “Pemimpin-pemimpin hebat adalah mereka yang
pandai berkomunikasi.” Dan seperti yang kita tahu, wanita sangat unggul
dalam komunikasi verbal daripada pria. Namun, selain faktor komunikasi,
masih ada hal-hal lain lho yang menjadikan wanita bisa memimpin lebih
baik daripada pria. Apa saja?
Empati
Secara positif,
empati berhubungan langsung dengan kinerja para karyawan. Kemampuan
wanita dalam memahami perasaan atau isi hati orang lain – untuk
mendeteksi apakah mereka mengalami kesulitan atau kelebihan dalam beban
kerja – adalah kemampuan yang sangat berguna dalam kepemimpinan yang
efektif.
Visi Bersama
Sebagai seorang atasan, wanita
biasanya lebih terbuka dengan visi mereka. Contohlah Kanselir Angela
Merkel yang dengan berapi-api menyampaikan visinya kepada seluruh rakyat
Jerman, “Dunia sedang mengawasi Jerman dan Eropa. Mereka sedang menanti
apakah kita siap menghadapi krisis terburuk Eropa sejak akhir Perang
Dunia II!” Yup, visi yang dikomunikasikan kepada seluruh staf dapat
menimbulkan semangat di antara mereka untuk maju bersama sebagai tim dan
mencapai tujuan perusahaan.
Sudut Pandang
Sudah
pasti wanita melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang berbeda
daripada kaum adam. Tentunya sudut pandang ini akan jauh lebih
menguntungkan, mengingat jumlah penduduk wanita yang menjadi konsumen
juga kian bertambah dan hampir menyamai pria. Siapa lagi yang lebih bisa
memahami mereka selain wanita? “Tim terbaik dibentuk dari komposisi
skill dan latar belakang yang beragam, sehingga bisa menumbuhkan
semangat inovasi dan kreativitas dalam organisasi,” tulis Sylvian
Perrins dalam Financial Times.
Demokratis
Terkadang,
untuk menjadi pemimpin yang baik adalah dengan melonggarkan sedikit
wewenang Anda. Nah, penelitian membuktikan bahwa wanita jauh lebih
demokratis daripada pria. Dalam pengambilan keputusan tak jarang
pemimpin wanita menanyakan pendapat anak buahnya. Sebaliknya, ego pria
kerap membuat mereka memutuskan segala sesuatu secara sepihak. Padahal,
survei membuktikan bahwa atasan yang memimpin perusahaan secara
demokratis memilki karyawan yang bahagia.
Multi-tasking
Entah
disadari atau tidak, wanita lebih terlatih untuk multi-tasking
dibandingkan pria. Mengerjakan beberapa proyek sekaligus – mengapa
tidak? Bahkan seorang ibu yang bekerja bisa menyeimbangkan antara karier
dan rumah tangga dengan baik.
Nurturing
Ini adalah
salah satu insting keibuan wanita yang sangat berguna di lingkungan
kerja. Wanita dikenal lebih bisa membimbing bawahan ataupun juniornya,
dan tak segan untuk mengajari mereka hal-hal baru. Bukannya pria tak
mampu melakukan hal ini, hanya saja it’s in your blood, dear. Wanita
jauh lebih alami dalam melakukannya.
Dua Kesalahan Umum Atasan Wanita
Miranda
Priestly, karakter yang diperankan oleh Meryl Streep dalam film Devils
Wears Prada, adalah tipe bos wanita yang paling ditakuti banyak pekerja:
Dingin dan kejam. Jelas-jelas menggambarkan kesalahan umum yang sering
dilakukan para bos wanita. Bukannya bos pria tak melakukannya, namun dua
kesalahan berikut lebih banyak dibuat oleh atasan wanita.
- Salah Mengatur Jarak Emosional
Atasan
wanita pada umumnya memilih peran menjadi Ratu Es atau Ibu Peri. Ratu
Es biasanya dingin dan tidak dekat dengan anak buah, bahkan mereka tidak
peduli dengan cita-cita para stafnya sehingga mereka merasa kurang
dihargai. Sebaliknya, sosok ibu Peri malah terlalu mengaburkan batas
antara atasan dan bawahan, dan memiliki hubungan emosional yang sangat
erat. Kedua peran tersebut membuat lingkungan kerja tidak sehat.
- Tidak Mengakui Kesalahan Perekrutan
Merekrut
orang yang tepat untuk suatu pekerjaan bukanlah tugas yang mudah.
Bahkan setelah melalui proses wawancara dan tes pun terkadang atasan
merekrut orang yang tidak sesuai kebutuhan. Bos yang efektif akan segera
melepaskan mereka, namun bos wanita biasanya cenderung kasihan dan
memberi mereka kesempatan. Kalau perlu, rekrutan baru ini akan diberi
tugas lain sesuai dengan kemampuannya. Dan posisi yang harusnya isipun
kembali kosong.
Watch Out for The Queen Bee!
Anda
berhasil meraih posisi puncak dalam perusahaan dan merasa sudah sejajar
dengan rekan-rekan pria Anda. Namun ada ancaman yang lebih berbahaya
daripada sekadar mempertahankan posisi tersebut, suatu ancaman yang
mengintai dan harus dijauhi, yaitu Sindrom Ratu Lebah atau biasa disebut
dengan Queen Bee Syndrome. Sudah pernah mendengarnya?
Dari
namanya saja sudah bisa ditebak bahwa sindrom ini hanya diderita oleh
kaum hawa saja. Biasanya, pemimpin wanita yang mengalami sindrom ini
memiliki karakteristik khas pria, seperti dominan, ambisius, result
oriented, dan selalu merasa terancam ada pihak-pihak - terutama staf
wanita lain – yang berniat menggoyahkan pencapaiannya. Akibatnya,
pemilik sindrom ratu lebah ini ingin menjadi satu-satunya “ratu” di
tempat kerja dan selalu berusaha untuk menghambat karier staf wanitanya.
Bahkan ia akan merasa sangat cemburu jika ada rekan atau anak buah
wanitanya yang mendapat promosi atau dipuji oleh bos besar. Terdengar
kekanak-kanakan memang, namun gejala yang ditemukan pada 1973 oleh G.L
Staines, T.E Jayaratne, dan C.Tavris ini memang benar-benar ada.
Source : Cosmopolitan Edisi Maret 2013 halaman 236
(vemale.com)





