- Back to Home »
- Karir »
- Perlukah Privasi Di Tempat Kerja?
Posted by : Unknown
Minggu, 23 Juni 2013
Rekan kerja tahu Anda semalam kencan romantis? Ya, dia mengetahuinya
dari Facebook. Kian bersinggungannya urusan pekerjaan dan pribadi, perlu
ada batasan yang tepat.
Sudah Jumat petang, dan rekan-rekan kerja
Anda bergantian membicarakan rencana akhir pekan seru mereka.
Kebetulan, Sabtu besok, Anda akan mengadakan bachelorette party untuk
seorang sahabat dekat yang melibatkan seorang stripper. Hmmm... Bingung
apakah Anda perlu berbagi informasi tersebut dengan rekan-rekan kerja?
Perasaan yang wajar, kok. Kadang kita menjadi ragu hal-hal apa saja yang
perlu dibicarakan dengan teman kerja, dan mana yang baiknya disimpan
sendiri.
“Kebangkitan social media telah membuat hidup semua orang
menjadi lebih dekat dan membaur. Anda menjadi ‘transparan’,” ujar Amy
Jo Martin, pakar social media dan penulis buku Renegades Write the
Rules. Segi positifnya adalah Anda akan dengan mudah memamerkan diri,
namun tetap harus berhati-hati agar tidak melangkah terlalu jauh. Tak
hanya di social media, urusan pribadi tetap perlu dikontrol di manapun
Anda berada, terutama di lingkungan kantor, karena dari situlah
profesionalitas Anda diuji. Berikut ini adalah tiga situasi yang rawan
too-much-information, dan Cosmo akan mengajak Anda untuk berlatih
menahan diri agar tidak perlu mengungkapkan terlalu banyak hal yang
kurang relevan tentang diri Anda. Simak!
Saat Berbicara Dengan Bos
Anda
ingin mengakrabkan diri dengan si bos. After all, jika Anda berhasil
menemukan kesamaan yang sifatnya personal, maka kans si bos untuk
menyukai Anda pun akan bertambah besar. Tapi bukan berarti Anda harus
berbagi segala hal dengannya, mulai dari petualangan kencan Anda sampai
bisnis online shop yang sedang dirintis. “Atasan tentu ingin mengetahui
banyak tentang Anda, tapi tidak sebanyak itu. Tetaplah profesional dan
hindari terlalu banyak berbagi informasi tentang hal-hal di luar urusan
kantor,” jelas pakar workplace-relationship, Courtney Anderson. Bahkan
kalau atasan Anda supercool dan tak segan untuk menceritakan kehidupan
pribadinya, jangan menganggap itu sebagai kode agar Anda melakukan hal
yang sama. Untuk lebih mudahnya, camkan aturan ini: Lakukan setengah
dari yang ia lakukan. Jika si bos membagi dua hal pribadinya dalam satu
hari, maka Anda hanya boleh menceritakan satu saja. Kalau dalam seminggu
ia hanya menjadi “ekstra akrab” satu kali saja, maka simpan cerita Anda
untuk lain kesempatan.
Dan...jangan pernah mengangkat hal-hal
pribadi kepada atasan secara tiba-tiba; sampaikan informasi tersebut
setelah dia mulai terlebih dahulu. “Dengan cara itu, apapun cerita Anda
akan mengalir secara alami dan kasual dalam percakapan,” ujar Courtney.
Simpan topik-topik pribadi yang sifatnya terlalu berat atau serius –
seperti ayah yang alkoholik atau kekasih yang bipolar – kepada
teman-teman dekat Anda saja. Hanya ada satu pengecualian: Anda bisa
menceritakan hal pribadi yang serius kepada atasan apabila hal tersebut
secara langsung memenuhi kinerja Anda di kantor. Tapi tetap, jangan
terlalu terbuka. Katakan saja, “Sebetulnya keluarga saya sedang
menghadapi masalah yang cukup besar, jadi saya harus bolak-balik
mengurusinya. Tapi saya selalu berusaha menyelesaikan semua tanggung
jawab saya di kantor.” Pasti atasan akan sangat menghargai kejujuran dan
profesionalisme Anda yang tetap berusaha mengutamakan tanggung jawab
pekerjaan.
Saat Bersosialisasi dengan Rekan Kerja
Tantangan
menghadapi rekan kerja jauh lebih besar dibandingkan bos karena godaan
untuk berbagi hal-hal pribadi kepada mereka juga jauh lebih kuat. Usia
mereka yang masih sepantaran tentu membuat Anda jauh lebih nyaman untuk
memperlakukan mereka tak jauh beda dengan teman-teman di luar kantor.
“Jika kolega-kolega Anda sedang berkumpul saat makan siang dan saling
bertukar gosip, sangat wajar jika Anda ingin terlibat di dalamnya,” ujar
pakar strategi personal branding, Kirsten Vernon, yang juga penulis
buku Career Distinction. Namun sesuka apapun Anda dengan rekan kerja,
jangan pernah benar-benar terbuka di depan mereka, karena bukan tak
mungkin mereka akan menggunakan informasi yang Anda bagi untuk
menjatuhkan.
Misalkan saja Anda bergunjing tentang si bos dengan
teman favorit Anda di kantor, dan beberapa bulan kemudian ternyata Anda
berdua bersaing untuk posisi pimpinan proyek. Well, kini dia punya
amunisi untuk mengalahkan Anda demi ambisinya. Tentu saja, Cosmo tidak
bermaksud mengatakan bahwa Anda tak boleh percaya dengan siapapun di
kantor. Apalagi kalau Anda sedang berada di bar dengan mereka sepulang
kerja. Alkohol bisa membuat lepas kontrol. Gunakan trik ini: Pause
sebelum Anda berbicara. “Terdengar mudah, tapi saat Anda ingin
mengatakan sesuatu kepada mereka, berhentilah dan ingatkan diri Anda
kembali bahwa mereka bukan sekadar teman saja, melainkan juga rekan
kerja,” saran Kirsten. Dan jika Anda memilih untuk menyimpan semua
kehidupan pribadi dari rekan-rekan kerja, namun tak ingin dibilang
membosankan dan dijauhi, dengarkan saja cerita-cerita mereka dan coba
terlibat dengan melontarkan banyak pertanyaan atau komentar saat mereka
sedang sharing.
Saat Online
Tak diragukan lagi bahwa
sosial media telah menjadi bagian penting tak hanya dalam kehidupan
pribadi juga kehidupan profesional. Bahkan tak sedikit pula perusahaan
yang mewajibkan karyawannya untuk follow atasan dan klien-klien penting
mereka agar bisa tetap up-to-date mengenai kabar-kabar terbaru di dunia
industri. Konsekuensinya, setiap tweet yang cerdas positif tentu akan
menambah poin profesional Anda di mata bos dan klien. Sebaliknya,
mem-posting segala sesuatu yang ada di dalam kepala Anda tentu bisa
membahayakan karier Anda. Coba gunakan guideline praktis berikut ini
untuk membantu Anda bersosialisasi di dunia digital:
- Twitter merupakan social network terbaik bagi para profesional. Follow atasan dan rekan-rekan kerja Anda, posting tweet-tweet yang cerdas akan pengamatan Anda terhadap hal-hal aktual, dan retweet hal-hal menarik yang berhubungan dengan bidang kerja Anda. Jika ingin menulis sesuatu yang bersifat personal, perhatikan agar tidak terlalu banyak dan sering.
- Facebook posisinya ada di area abu-abu. Fungsi utamanya adalah untuk menjaga hubungan dengan teman-teman dan keluarga, tapi friend request dari teman kerja tentu tak akan terhindari. Terima saja request tersebut, tapi atur dulu privacy setting-nya agar mereka tidak bisa melihat konten-konten Facebook yang sifatnya personal. Kelompokkan mereka dalam satu grup dan blok akses ke personal stuff Anda. Bingung? Minta tolong pasangan Anda mengaturkannya.
- Instagram? Uh, untuk yang satu ini lebih baik dijaga agar tetap personal. Foto-foto saat clubbing bersama the girls pasti bakalan muncul di akun ini, dan Anda akan sangat menyesal kalau si bos dan rekan-rekan kerja melihatnya.
- Path sama seperti Instagram, sebaiknya jauhkan rekan kerja dan bos Anda dari social media yang sedang naik daun ini. Lagipula, jumlah teman di Path dibatasi hanya 150 orang saja, jadi jika ada friend request dari teman kantor, katakan saja, “Maaf, ternyata friend list saya sudah 150, makanya dari kemarin gagal terus saat mencoba menerima request kamu.” They’ll totally understand.
8 Hal Yang Sebaiknya Tidak Dibagi dengan Rekan Kerja
- Besarnya gaji. Jumlah gaji yang Anda peroleh adalah rahasia antara Anda dan Human Resources. Keterbukaan Anda membahas soal gaji menunjukkan ketidakmampuan Anda menyimpan rahasia.
- Sejarah medis. Tak perlu terus-terusan membahas soal penyakit Anda, operasi terakhir atau gangguan di Miss Cheerful. Bagi atasan, penyakit yang terus-terusan datang malah membuat Anda tampak lemah dan pengeluh.
- Gosip. Dengan siapapun Anda bergosip di tempat kerja, hampir bisa dipastikan apa yang Anda bicarakan akan disampaikan ke orang lain.
- Keluhan pekerjaan. Keluhan yang tak henti-henti mengenai beban kerjaan hanya akan membuat Anda dijauhi oleh rekan kerja lain yang menganggap aura Anda terlalu negatif dan kurang mau berusaha.
- Biaya hidup. Okay, gaya hidup Anda memang luar biasa, tapi sebaiknya simpan informasi tersebut karena mereka malah akan mempertanyakan bagaimana Anda bisa membeli tas Chanel lansiran terbaru dengan gaji Anda.
- Politik atau agama. Setiap orang memiliki pandangan pribadi mengenai dua isu sensitif ini. Jangan sampai pendapat pribadi Anda membuat semua orang di kantor membenci Anda. Keep it to yourself.
- Percintaan. Putus, cerai, malam pertama, dan rencana kapan akan memiliki momongan harusnya hanya dibagi dengan orang-orang terdekat saja. Titik.
- Hangover dan pesta gila. Sah-sah saja kalau Anda melewatkan akhir pekan supercrazy bersama para sahabat, tapi jangan sampai menjadikannya sebagai bahan obrolan di hari Senin.
Source : Cosmopolitan Edisi April 2013 halaman 217
(vemale.com)





