- Back to Home »
- Dunia Kesehatan »
- Ini Hanya Flu, Sayang....
Posted by : Unknown
Minggu, 16 Juni 2013
Pergantian musim selalu ditandai dengan datangnya berbagai macam
penyakit, terutama flu. Kalau si dia menjadi salah satu yang terjangkit,
jangan heran kalau umurnya mendadak berubah jadi lima tahun.
Pernahkah
Anda merasa terganggu saat pasangan mulai merajuk, manja, dan sensitif
saat ia terkena flu, sementara di kondisi yang sama Anda masih bisa
melakukan aktivitas normal meski dengan perjuangan ekstra? Well, hate to
say this, namun menurut survei dari www.engagemutual.com, pria memang
hobi melebih-lebihkan penyakitnya. Dari pilek biasa menjadi flu berat,
atau dari sakit kepala ringan menjadi migrain. Masih dari penelitian
yang sama, 57% pria mengaku mencari perhatian dan simpati berlebih dari
pasangannya di saat mereka tergolek sakit, dan 2/3 dari jumlah tersebut
menjadi lebih sering merajuk dan komplain. Just like babies. Baiklah
dear, sebelum Anda tambah senewen dan uring-uringan menghadapi para
“bocah lelaki” ini, ada baiknya simak dulu faktor-faktor mental dan
fisik yang mengakibatkan perubahan perilaku pria di saat sakit berikut
ini.
Wanita Lebih Kebal Penyakit Daripada Pria
Mungkin ada benarnya juga stereotype yang mengatakan bahwa pria menganggap
semua penyakit itu berbahaya, sementara wanita jauh lebih santai menghadapinya.
Sebuah
studi yang dimuat di jurnal BioEssays pun mengamini pernyataan
tersebut. Para peneliti meyakini bahwa hal tersebut ada hubungannya
dengan MicroRNAs – berkaitan dengan fungsi kekebalan tubuh – yang
dihasilkan oleh kromosom X, di mana wanita memiliki dua buah kromosom
tersebut. Karena pria hanya memiliki satu kromosom X, dan kromosom Y
tidak bisa memproduksi MicroRNAs, maka mungkin saja kalau wanita lebih
tangguh dalam menghadapi penyakit.
Pria Dekat dengan Ibu Mereka
Tentu
saja bukan fakta baru, tapi bisa saja jenis kelamin Anda memicu rasa
rindunya untuk diperhatikan dan dirawat oleh sang ibu saat ia jatuh
sakit. “Kebanyakan pasien wanita saya mengeluh bahwa pasangan mereka
kerap memaksa mereka untuk mengambil peran sebagai ibu,” ujar Mary Jane
Minkin, MD, profesor obstetrik dan ginekologi di Yale School of
Medicine. Cosmo tak menganjurkan Anda untuk pergi ke department store
dan membelikannya piyama dan kaus kaki, tapi buatkanlah ia makanan
favoritnya.
Makanan yang biasa dimasak oleh ibunya setiap dia
sakit, entah itu bubur ayam, sup krim, atau nasi goreng buatan rumah.
He’ll love it.
Wanita Lebih “Akrab” dengan Kuman
Wanita
yang sudah menjadi seorang ibu akan jauh lebih sering berurusan dengan
kuman dibandingkan pria. How come? Kata kuncinya adalah: Anak-anak. Ya,
anak-anak kerap membawa kuman penyakit dari luar ke dalam rumah. Entah
dari tempat penitipan anak, taman bermain, atau lapangan olahraga.
Ditambah lagi dengan kebiasaan wanita untuk jajan makanan di pinggir
jalan yang kebersihannya belum terjamin. Mungkin Anda salah satunya,
bukan? Tak heran jika lambat-laun wanita akan jauh lebih terbiasa
menghadapi kuman daripada pria.
Pria Jarang Mengunjungi Dokter
Jangan pergi jauh-jauh, ladies. Kemungkinan besar para pria bajak membutuhkan
kehadiran
Anda di sisi mereka 24 jam sebagai perawat pribadi, mengingat sebuah
studi menunjukkan bahwa pria berusia antara 20 sampai 40 tahun sangat
jarang memeriksakan diri ke dokter, dan saat sakit, mereka menjadi
sangat dramatis,” ujar Dr.Minkin. “Plus, wanita setidaknya satu atau dua
kali setahun memeriksakan kesehatan ke dokter, entah dokter kulit atau
ginekolog. Di mana secara tak langsung kondisi kesehatan mereka secara
umum juga terkontrol.”
Tubuh Wanita Dirancang Untuk Tahan Sakit
Mungkin
sebagian dari Anda berpikir, “Tentu saja, kemampuan menahan rasa sakit
pada saat melahirkan bayi secara alami menjadikan kami Superwoman!” Tapi
dari berbagai penelitian ilmiah yang ada saat ini belum benar-benar
sepenuhnya mendukung pernyataan tersebut. Beberapa pakar masih
beranggapan kalau berurusan dengan sensor rasa sakit di otak, baik pria
dan wanita memiliki banyak kesamaan. “Meski merasakan rasa sakit dengan
cara dan porsi yang sama, pria lebih banyak mencurahkan energi mereka
untuk merasakan sakit tersebut, sementara wanita akan langsung mencari
cara untuk mengatasinya,” jelas Dr.Minkin.
Kamu Harus Sehat, Dear!
Mencegah
lebih baik daripada mengobati. Sebelum dia mulai merajuk karena
badannya hangat dan kepalanya pusing, bantu ia tetap sehat dengan tip
berikut ini!
• Jaga tekanan darahnya. Batas normalnya adalah 120/80 agar jauh dari penyakit
stroke
dan jantung. Makanan berbasis tomat dapat membantu menurunkan tekanan
darah. Begitupun dengan segelas wine sehari. Tapi jika ia tidak menyukai
alkohol, sari buah anggur bisa dijadikan alternatif. Alpukat dan
cokelat juga kaya
akan antioksidan lho.
• Ajak ia lebih
rutin berolahraga. Timbunan lemak yang tinggi bisa memicu berbagai macam
penyakit. Pilih saja olahraga Anda berdua sukai, entah itu jogging,
yoga atau berenang sepulang kerja. Kini pusat kebugaran juga sangat
mudah ditemui di hampir setiap sudut kota.
• Perhatikan pola tidurnya. Jika ia tersedak atau terbangun di tengah malam karena
kesulitan
bernapas, bisa jadi ia mengalami sleep apnea yang disebabkan oleh
gangguan di saluran pernapasan. Dan pastikan agar jam tidurnya cukup,
karena minimnya jam tidur dapat memperbesar risiko serangan jantung.
•
Minum air putih yang banyak. Dia sering mengeluh letih dan kehabisan
energi? Bisa saja penyebabnya adalah dehidrasi, alias kurang minum air
putih. Banyak
pria kini lebih sering mengonsumsi kopi daripada air putih. Memang sih kafein
dapat mendorong energi dan stamina dengan instan, namun hanya sesaat saja.
Jika ia tak bisa lepas dari kafein, anjurkan ia beralih ke teh yang juga kaya akan
thiamine yang dapat memberi efek rileks pada tubuh.
Source : Cosmopolitan Edisi April 2013 halaman 156
(vemale.com)





